Kamis, 22 Januari 2009
waktu yang salah
kadang kita merasa telah mengambil jalan yang benar
kadang kita meyakinkan diri kalau kita ada di waktu yang tepat
ada masa dimana kita harus berfikir, merasa dan yakin
berfikir kalau kita berdiri di tempat yang salah
merasakan kalau sebenarnya kita salah mengambil jalan
dan kita harus meyakinkan diri kalau kita ada di waktu yang salah
Rabu, 21 Januari 2009
Biarkan Hati yang Bicara
Aku Nia, saat aku berumur 7 tahun aku baru sadar kalau aku berbeda dari yang lain. Aku sama sekali nggak bisa ngungkapin segala sesuatu yang ada dalam pikiranku dengan kata-kata. Setiap aku mencoba untuk bicara, yang keluar hanya ucapan-ucapan nggak jelas yang orang normal nggak bakalan bisa mengartikannya.
Semenjak saat itu aku mengungkapkan semuanya lewat puisi-puisi yang mewakili setiap keadaanku. Semuanya aku pelajari dari sekolah luar biasa, mulai dari mengenal huruf, angka, berhitung, membaca dan berbicara isyarat.
Saat umur 10 tahun mama mengenalkan aku dengan piano. Semenjak saat itu aku belajar giat untuk bisa memainkan piano. Setiap denting yang berbunyi sebagai isyarat perwakilan pikiran dan hatiku.
Kebisuan ini tidak aku anggap sebagai penghalang untuk dapat beraktivitas seperti orang normal lainnya. Seperti hari ini aku harus ke tempat les piano sendiri, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Terlalu buru-buru membuat aku menabrak seseorang. Semua partitur latihan pianoku berjatuhan di tanah. Pria itu membantu aku mengambil semuaya dan merapihkannya. Dia mengulurkan tangannya meminta maaf dan menyebutkan salah satu nama yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun.
”Andre,” katanya sambil mengulurkan tangan
Aku mengulurkan tanganku dan langsung pergi. Masih aku dengar Andre berteriak dari belakang.
”Jangan pergi, nama kamu siapa?” teriaknya dengan kencang
Teriakan itu membuat aku mempercepat laju jalanku. Aku nggak tau ini namanya apa, ada getar dalam hatiku saat aku melihat Andre untuk pertama kalinya. Hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Apa ini yang namanya cinta???
Sebenarnya aku ingin sekali lebih mengenal Andre, bukan hanya sekedar nama. Tapi aku cukup tahu diri, hanya akan mempermalukan diri sendiri, bila aku harus tetap berdiri di sana lebih lama.
Kamarku, 18 november 2008
Biarkan hati yang bicara
Biarkan ia berkata-kata
Hanya hati yang tahu kebenarannya
Mulutmu bisa berdusta
Tapi tidak dengan hatimu
Ketika ada cinta hati kan berbunga
Ketika ada penghalang itulah kebisuan
Air mataku menetes deras saat aku menuliskan sebait puisi itu dalam buku harian. Terkadang aku benci dengan kehidupanku sekarang, mengapa aku harus dilahirkan dengan keadaan bisu seperti ini. Aku marah pada Tuhan, orang tuaku, bahkan benci pada diri sendiri. Tapi mama membuka pikiranku dengan tetap memberikan perlakuan yang sama dengan kak Ima, kakak perempuanku.
JLJ
”Duh...tuh cewek siapa ya namanya, kenapa dia harus langsung pergi gitu aja,” Andre bergumam sendiri di kamarnya sambil mengingat kembali kejadian tadi siang.
”Pokoknya gue harus cari tahu siapa nama tuh cewek gimanapun caranya.”
Andre punya rencana buat nungguin cewek kemarin di tempat yang sama keesokan harinya.
”Udah jam segini kok dia belum lewat juga ya?” Andre bertanya pada dirinya sendiri.
Sudah dua jam dia berdiri disana, tapi cewek yang dia tunggu nggak kunjung tiba. Abang gorengan yang mangkal di dekat jalan itupun gerah dibuatnya.
”Mas nungguin siapa sih?, kok dari tadi saya lihatin kayaknya gelisah banget”
”duh nih abang resek banget sih,” gumam Andre dalam hati
”saya lagi nungguin cewek yang suka lewat sini bang”
”cewek yang mana mas? di sini tiap hari juga banyak cewek yang lewat”
Andrepun menyebutkan ciri-ciri Nia,
”tinggi, langsing, putih, pokoknya TOP BGT deh bang”
”yang mana ya mas?” gaya abang gorengan sok-sok mikir
“dia suka bawa partitur gitu bang”
”partitur apaan ya mas?” tampang bloon abang gorengan kelihatan banget
“pokoknya yang isinya not-not balok, sama nada-nada gitu”
“duh kalau yang begituan saya nggak ngerti mas”.
Andre akhirnya sadar kalau nanya sama abang gorengan cuma buang-buang waktu dan tenaga saja. Akhirnya dia memutuskan untuk nunggu keesokan harinya lagi.
Jam yang sama di tempat yang sama, Andre berdiri nggak sabar menanti cewek yang sampai sekarang namanya pun ia nggak tahu.
“Kenapa sih gue jadi kayak orang bego gini, padahal kalu dipikir-pikir masih banyak cewek lain,” Andre ngomong sendiri.
Beberapa menit kemudian Andre melihat Nia lewat, dengan semangat yang mengebu-gebu ia berlari menghampiri Nia.
”Hi...,”sapa Andre
Nia hanya diam saja, ia kaget dan mempercepat langkahnya. Andre mengimbangi langkah Nia dengan sedikit berlari.
”Nama kamu siapa?, kenapa sih setiap pertanyaan aku nggak kamu jawab?, salah ya kalau aku mau kenal kamu lebih dekat?”
Nia hanya diam, dalam hati ia membatin.
”Sama sekali nggak salah ndre, tapi semuanya bakal sia-sia kalau kamu tahu bahwa aku hanya seorang cewek bisu”
Nia langsung masuk ke dalam tempat les, dan meninggalkan Andre yang masih bingung dengan semuanya.
Andrepun nggak kehabisan akal, ia mencari tahu melalui resepsionist.
”Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu? ”ucap resepsionost itu sopan
“saya cuma mau tanya mbak, cewek yang masuk barusan namanya siapa ya?”
“o… mbak Nia”
“Nia?nama yang bagus” Andre membatin
“mbak Nia itu les piano di sini udah lama banget, kadang-kadang dia juga membantu guru-guru di sini mengajar. Tapi maaf ya mas sebelumnya, mas harus tahu kalau mbak Nia itu punya kekurangan, nggak normallah kayak kita-kita,” sang resepsionist sedikit bergosip
“kekurangan gimana mbak?”
“dia nggak bisa bicara, dia bisu”
Jawaban mbak tersebut menohok hati Andre, dia nggak menyangka cewek seperfect Nia ternyata seorang gadis bisu.
“makasih ya mbak”kali ini Andre nggak sesemangat tadi
“sama-sama mas”
JLLJ
Nia menangis sejadi-jadinya, dia mendengar semua yang dikatakan mbak Ratna dan Andre barusan. Dia sadar Andre bakalan putar haluan ketika tahu keadaan sebenarnya.
”Kenapa setiap orang selalu melihat kekurangan fisik bukan melihat kekurangan hati” ucap Nia ditengah-tengah tangisnya.
Nia minta izin untuk pulang lebih awal hari ini. Setelah mendapatkan izin ia langsung pergi meninggalkan tempat lesnya. Namun, alangkah kagetnya Nia saat melihat Andre berdiri di depan tempat lesnya. Nia berusaha menghindar, tapi Andre terlalu cepat sehingga ia tidak bisa mengelak lagi.
”Nia, aku udah tahu semuanya tentang kamu, kamu jangan menghindar dari aku. Kekurangan kamu itu nggak bakalan jadi penghalang buat aku untuk terus mencintai kamu. Sejak pertama kita ketemu aku tahu kalau kamu adalah cinta yang aku tunggu selama ini.”
Nia nggak nyangka kalau ternyata Andre juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan. Ia mengeluarkan pensil dan kertas, alat komunikasi yang selama ini membantunya.
KAMU TIDAK KENAL SIAPA AKU
”Oleh sebab itu Nia, beri aku waktu untuk mengenal kamu”
KAMU PASTI SUATU SAAT AKAN NINGGALIN AKU
”Nggak Nia, aku janji akan selalu ada buat kamu”
Semenjak saat itu Nia dan Andre selalu bersama, Andre selalu ada saat Nia butuh seseorang untuk menyandarkan kepalanya, butuh pelukan saat ia menangis, Andre selalu ada.
Seperti saat hari ulang tahun Nia, Andre memberikan surprise party untuk Nia. Andre bilang kalau ia hari ini sakit jadi nggak bisa ngejemput Nia di tempat les. Keadaan itu bikin Nia panik, ia pun segera menuju rumah Andre dengan taksi. Sesampainya di sana semua gelap, kecuali cahaya lampu taman belakang yang terlihat menembus dari ruang makan. Niapun langsung menuju taman belakang, dan alangkah terkejutnya Nia ketika melihat di sana Andre telah berdiri dengan busana ala pangeran di dunia impian.
”Happy birthday to Nia, happy birthday to Nia......”Andre menyanyikan lagu itu dengan tampang yang lucu sekali sambil membawa kue tart dengan lilin bertuliskan angka 22, usia Nia saat ini. Malam itu begitu indah, dan Andre begitu berarti bagi Nia. Mereka menghabiskan malam itu dengan melihat bintang-bintang yang berkilauan di langit. Bintang, bulan, langit bahkan anginpun tak ingin ketinggalan merasakan bahagia di hati Nia, mereka terus bercahaya dan berhembus menyanyikan lagu syahdu, lagu alam tentang kebahagian.
MUNGKIN MULUTKU TAK DAPAT BERUCAP
TAPI HATI INI TETAP MAMPU BERUJAR
IZINKAN HATIKU TETAP BERBICARA
HANYA KAMU YANG MAMPU BUATKU BAHAGIA
SAAT PERTAMA BERTEMU, HARI INI, DAN NANTI
Nia menuliskan puisi itu untuk Andre, Andre hanya bisa tersenyum.
”Aku nggak bakalan ninggalin kamu. Saat-saat seperti ini adalah saat terindah yang tak kan mungkin tergantikan dengan apapun” Andre berujar sambil membelai rambut Nia dengan lembut.
Andre adalah makhluk setengah dewa bagi Nia. Makhluk yang telah menyayanginya dengan ketulusan jiwa. Satu-satunya orang yang mampu membangkitkan ia disaat ketidak berdayaan menerpanya.
Sampai suatu saat Nia memberanikan diri untuk mengajak Andre mengenal keluarganya. Tante Ina mamanya Nia senang sekali ketika tahu Nia sudah memiliki pacar.
”Duduk nak Andre”
”terima kasih tante” jawab Andre sedikit gugup
Tak berapa lama muncullah Nia membawa minuman, selain itu ia membawa serta kakaknya dan memperkenalkannya pada Andre.
”Andre”
”Ima”
Ima, mirip sekali dengan Nia hanya saja Ima terlihat lebih dewasa dan pastinya lebih sempurna dibandingkan Nia.
Semenjak perkenalan itu Andre sering main ke rumah Nia, hanya untuk sekedar silaturahmi ataupun yang lainnya. Entah mengapa setelah sekian lama bertemu dengan Ima ia memiliki perasaan berbeda. Perasaan yang dulu ia rasakan saat ia pertama kali bertemu dengan Nia.
Terlalu cepat memang untuk memastikan bahwa rasa yang ada itu adalah cinta. Sering bertemu, bertatap muka, atau berbicang membuat Andre semakin dekat dengan Ima. Awalnya ia sering curhat mengenai hubungannya dengan Nia, tapi lama-kelamaan yang ia rasakan adalah perasaan nyaman dan ada sebersit rasa rindu apabila akhirnya ia tidak menghubungi Ima untuk beberapa saat.
Perasaan yang sama juga dirasakan Ima, banyak cowok tampan yang mendekatinya. Tapi kenyataannya rasa itu tak dapat berbohong.
Semakin sering Andre bertemu dengan Ima membuat ia tidak bisa membohongi perasaannya lagi. Ia datang kini bukan untuk Nia melainkan untuk Ima. Mereka habiskan waktu untuk mengobrol berdua, bahkan mencuri waktu untuk bertemu tanpa sepengetahuan Nia.
”Jujur aku sayang Nia,” Andre berkata pada Ima disaat mereka mencoba untuk kesekian kalinya bertemu tanpa sepengetahuan Nia
”aku juga sayang dia ndre, tapi aku juga nggak bisa nyangkal kalau aku juga nggak bisa kehilangan kamu”
Dialog itu selalu mengganggu Andre selama beberapa hari ini, dia merasa sangat bersalah kepada Nia tapi di sisi lain dia nggak mau kehilangan Ima. Perang batin yang tak berkesudahan. Ima yang sangat sempurna ataukah Nia gaadis yang lebih dulu ia cintai. Akhirnya Andre memutuskan untuk tetap menjalin hubungan dengan keduanya sampai akhirnya waktulah yang akan menjawab siapa yang akan ia pilih.
Sepandai-pandai menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Seperti itulah yang terjadi, akhirnya Nia tahu hubungan antara Andre dan kakaknya sendiri. Suatu kali ia memergoki Andre dan kak Ima, mereka sedang bergandengan mesra. Bukankah hal yang sangat tidak masuk akal. Terlebih setelah itu seorang cowok yang mengaku dekat dengan Ima menelepon Nia dan mengatakan bahwa Nia harus tahu tentang hubungan yang telah dijalin oleh kakaknya dan Andre. Awalnya Nia tidak percaya namun bertemu untuk kedua kalinya dengan keadaan yang sama membuat Nia semakin yakin, bahwa ada hubungan khusus antara kak Ima dan Andre. Semakin hari Andre semakin jarang menghubungi Nia, ia selalu menghindar setiap kali Nia mengajak jalan ataupun nonton, hal yang sering mereka lakukan dahulu.
Dan pada puncaknya Nia mengajak Andre untuk bertemu di salah satu cafe yang selama ini menjadi saksi cinta dan bahagia mereka. Bukan hal yang romantis seperti dulu yang kali ini akan dibahas.Nia langsung to the point dan menuliskan kata-kata yang sangat tidak diduga sebelumnya oleh Andre.
KAMU PILIH AKU ATAU KAK IMA, Nia menulis di kertas
Untuk beberapa lama Andre terdiam, dan akhirnya ia beranikan diri untuk menjawab. Bagaimanapun juga ia tidak memiliki kekuatan untuk membohongi Nia, gadis yang selama ini telah mengisi hari-harinya.
”Nia maafkan aku, itu pilihan sulit buat aku. Jujur aku sayang kamu, tapi aku nggak bisa ninggalin Ima buat kamu” Andre berusaha jujur dengan perasaannya sendiri saat ini.
Jawaban Andre membuat Nia menangis, air mata yang berusaha ia tahan dari tadi akhirnya tumpah juga.
KAMU TEGA SAMA AKU
Kata-kata terakhir yang dituliskan Nia kepada Andre. Setelah itu ia berlari meninggalkan Andre yang masih terpaku mengingat kejadian yang tidak ia sangka sebelumnya akan berakhir seperti ini.
Malamnya Nia terus menangis di kamarnya. Mama dan kak Ima tidak mampu membujuknya untuk keluar kamar. Hati Nia bertambah hancur, kenapa harus kakaknya sendiri yang merenggut kebahagiannya. Tapi Nia sadar ia bukan siapa-siapa seperti kak Ima yang hampir tidak memiliki kekurangan. Kak Ima yang cantik, dewasa, pintar, kak Ima yang keibuan, pandai memasak, seorang model, semuanya terlihat begitu sempurna. Semuanya begitu sia-sia bila dibandingkan dengan Nia yang hanya seorang gadis bisu. Malam itu menjadi malam yang amat memilukan bagi Nia, ia menangis seorang diri tanpa Andre yang biasanya menemaninya berbagi cerita dan sedih.
Nia membolak-balik semua puisi-pusinya yang khusus ia buat untuk Andre. Sebuah lagu juga ia ciptakan untuk mewakili perasaan bahagianya ketika berada dekat dengan Andre. Semua kenangan itu ia kumpulkan bersama foto-foto mereka berdua. Nia sadar semuanya harus dihapuskan.
Nia begitu terpuruk atas kejadian yang menimpanya.
”kenapa ketika aku mencintai seseorang orang itu malah mencintai orang lain, aku sadar semua kekurangan yang aku miliki. Tapi apakah tidak ada sedikit jalan yang bisa aku tempuh untuk merasakan sedikit saja indahnya cinta” Nia hanya bisa membatin dengan derai air mata.
Diambilnya buku harian yang selama ini menjadi sahabat setianya, lalu ia tuliskan sebait kata-kata terakhir yang ingin sekali ia sampaikan pada Andre.
My room, 08 Agustus 2009
Kutulis semua ini sebagai bukti
Bukti keagungan cinta yang tidak pernah pudar
Walau nafas terhenti
Walau jiwa pergi meninggalkan raga
Ku nanti kau di surga
Puisi terakhir untuk Andre yang ditulis Nia. Keesokan harinya Nia ditemukan sudah tak bernyawa. Darah mengalir dari pergelangan tangannya. Nia memilih mati demi cinta dari pada ia tetap hidup tetapi cintanya yang mati.
Mendengar kabar kematian Nia Andre bergitu terpukul, ia menyesal telah membuat Nia menderita. Ia mengambil semua kenangan terindah mereka dan menyimpan semuanya. Berhari-hari Andre mengurung diri di kamar, ia berteriak, menangis dan selalu menyebut-nyebut nama Nia. Masih adakah cinta itu untuk Nia?. Terlalu mudah mengambil keputusan untuk mencintai, Andrepun menyadari dan menyesali semuanya.
Disaat terpuruk seperti ini Ima sangat berarti, Andre seperti melihat Nia di sosok Ima. Imalah yang membantu Andre bangun dari keterpurukannya. Ima yang dewasa mampu membuat Andre bertahan. Bertahan untuk terus hidup dengan cinta, karena cinta itu tidak pernah pudar dan mati, masih ada seseorang yang memilki dan menanti cinta. Cinta Ima dan Nia yang tertanam kukuh untuk Andre.
JLLJ
10 TAHUN KEMUDIAN
”Nia, jangan main di jalan sayang” suara Ima sedikit berteriak
Nia adalah buah cinta yang tidak akan pernah pudar, buah cinta Andre dan Ima.
Biarkan hati yang bicara
Biarkan ia berkata-kata
.................
Andre tersenyum melihat Nia kecil yang lucu, ia sadar kebahagian itu bukan untuknya, tapi tetap untuk Nia. Hati telah bicara, ia telah memilih yang terbaik. Memilih untuk tetap mencintai, bukan untuk membagi cinta.
CHATTING
”Tau nggak sih lo?, gue kemaren abis jalan ama Andre. Gila...cakep banget bo”
“Andre siapa pie?,” tanya Chia pada Shopie.
“Lo nggak punya TV ya?atau jangan-jangan lo nggak pernah baca tabloid gosip?,”
“Gue kemaren juga abis nonton ama Ardan,” kilah sari nggak mau kalah.
“Ardan siapa lagi sih?,” Chia semakin bingung dengan nama-nama yang nggak masuk dalam buku pelajaran mana pun itu.
“Kayaknya gue nggak perlu jelasin ke lo deh siapa mereka, nggak ada gunanya juga khan?.”
Begitulah awal pagi yang cerah pada hari Senin di SMA Maju Mundur kebanggan bangsa
“Teng…teng…teng...teng”
Percakapan nggak penting itu akhirnya terhenti oleh suara bel yang hampir mirip suara kentongan tukang jualan es tong-tong keliling kompleks di rumah Chia. Anak-anak yang rasa nasionalismenya tinggi itu pun berduyun-duyun memenuhi lapangan basket yang bila hari Senin beralih fungsi menjadi lapangan upacara.
Telah berdiri dengan tenang Bapak kepala Sekolah kebanggan SMA Maju Mundur sekaligus juga bapak yang sangat ditakuti para siswa di atas podium kehormatan ”Pembina Upacara”.
Perlu dicatat dan digarisbawahi, Bapak kepala sekolah kami yang telah berumur 30 tahun ini masih singel alias belum punya pendamping hidup. Walaupun demikian anak-anak SMA Maju Mundur nampaknya tidak berminat untuk membahas masalah status bapak yang satu ini.
“Nggak penting,” ujar Shopie suatu kali
“Nggak bobot banget sih.., kayak nggak ada duda yang lebih keren aja,” Sari ikut-ikutan menghina.
Para siswa mendengarkan dengan khidmat petuah Bapak KEPSEK tentang kebersihan, keamanan, keindahan, keselarasan, ketaqwaan, ketertiban, kerapihan, kerajinan, dan petuah-petuah lainnya yang membuat anak-anak yang tidak kuat berdiri akhirnya harus tumbang satu-persatu sebagai kusuma bangsa menuju tempat kedamaian yang tenang, ”UKS”.
Chia yang piket UKS hari itu kewalahan menghadapi banyaknya siswa yang pingsan.
”
“Iya, entar dulu nih, gue lagi ngambil air putih buat Sari, suruh Rano tuh…”
Hari senin yang sial itu, hanya ada empat orang di UKS, Chia, Nisa, Mala, dan Rano. Rano sibuk mencari-cari kesempatan dalam kesempitan, dia bolak-balik memapah cewek-cewek dari lapangan ke UKS.
“Lo nggak liat apa?gue lagi sibuk nih, banyak orderan,”
Terpaksa Chia mengambil sendiri minyak kayu putih di
Pelajaran Sejarah yang bikin ngantuk itu pun berakhir, seluruh siswa SMA Maju Mundur menyesaki kantin sekolah untuk mengisi ulang perut-perut mereka yang mulai memeperdengarkan lagu-lagu sumbang khas kelaparan, ”krocok…kerocok…”
Gang Shopie mengambil tempat khusus yang sudah mereka duduki dari tahun pertama mereka sekolah di situ, pojokan dengan tiga kursi.
“Bang… baksonya tiga ya?,” Shopie sebagai leader memesan makanan untuk dirinya dan teman-temannya.
“Es jeruknya tiga,” timpal Sari kepada Bang Rozali penjual bakso favorit SMA kami.
Sambil menunggu pesanan tiba, mereka ngerumpi lagi nih. Mulai dari cerita satpam sekolah, artis, ampe cerita tentang Pak Sukarno yang nggak kawin-kawin.
”Lo dah punya cowok belum sih Rin?,” tanya Shopie tiba-tiba.
“Belom,” jawab Ririn dibarengi dengan gelengan kepala.
”Hari gini nggak punya cowok?, kemana aja bu?”. Gaya shopie yang khas suka mengejek orang keluar lagi.
”Melek teknologi donk, cari lewat internet, chatting bo...” kali ini Sari ikut-ikutan.
Chia yang tak jauh dari mereka pun ikut nguping tips-tips yang di berikan Shopie dan Sari kepada Ririn. Sambil mengunyah batagornya, Chia mendengarkan dengan seksama suara Shopie yang cempreng.
”First, lo harus cari cowok yang pake nick yang lucu and gaul”
“Second, lo jangan gampang percaya, atau dengan kata lain lo harus selalu waspada dengan segala tipuan,” Shopie menjelaskan dengan penuh semangat.
“Lo juga harus jual mahal,” Sari nimbrung.
”Bener banget,” Shopie nimpalin
”Lo juga harus liat dulu FSnya, kalo jelek tinggalin aja.”
Itulah tips-tips yang secara tidak langsung masuk secara paksa ke memori otak Chia yang rata-rata berisi rumus matematika dan hapalan sejarah .
Sesampainya di rumah Chia masih mengingat-ingat tips yang didengarnya di kantin tadi. Sebentar lagi umurnya tujuh belas tahun, tapi sampai sekarang ia belum pernah ngerasain yang namanya pacaran.
“Kenapa sih ampe sekarang nggak ada yang nembak gue?, perasaan gue nggak jelek-jelek amat deh. Apa gue coba aja ya tips dari Shopie dan Sari tadi?” Chia bicara sendiri sambil melihat pantulan wajahnya yang manis di depan cermin.
Keesokan sorenya sepulang sekolah, Chia menuju warnet langgananya untuk memeriksa email dan mencari bahan makalah yang akan dikumpulkan minggu depan.
”Mas...kok loadingnya lama amat ya?”
“Nggak tau juga neng, biasanya cepet”
Menunggu loading yang lama, Chia langsung teringat sama tips-tipsnya Shopie. Ia langsung membuka dengan semangat Yahoo Messenger dan MIRC.
Tak berapa lama ada yang mengaddnya.
Ad1t_18:” hi….leh knalan g?”
Ia_moet: ”boleh ja”
Ad1t_18: ”ASL plizz???q Adit, 18 M JKT”
Ia_moet: ”Chia, 16 F JKT”
Seketika itu juga Chia ingat salah satu tips yang didengarnya dari Shopie dan Sari tempo hari.
Ia_moet: “blh mnta FS g?”
Ad1t_18: ”blh ja, dit_cuakep@yahoo.com”
Buru-buru Chia membuka alamat FS yang tertera di situ. Terkejutnya Chia saat melihat foto yang ada di sana, wajah Adit mengingatkannya pada salah seorang pemain film Korea, yang pasti dia cakep.
Ad1t_18: ”FS kamu donk?”
Ia_moet: ”aq g’ pnya FS, gmn donk?”, Chia berbohong.
Ad1t_18: “ya udah gpp, no HP punya khan?”
“Kasih nggak ya,” kali ini Chia bimbang. Kata Shopie dia nggak boleh gampang percaya ma orang, tapi yang namanya Adit itu cakep banget.
“Siapa tau entar dia jodoh gue, gimana donk?”
Ad1t_18: “lama amat blsnya?, g bleh ya?gpp koq..”
Dan akhirnya,
Ia_moet: “blh koq, 085288889999. kamu?”
Ad1t_18: ”085276890436”
Ad1t_18:”udahan dulu yach, aq mo off nh”
Ad1t_18:” entar aq sms km yach. Bye…”
Ia_moet: “Bye…”
Setelah mendapatkan bahan makalahnya, Chia mengclose seluruh program dan bersiap-siap meninggalkan warnet.
“Berapa mas,?” tanya Chia sambil mengeluarkan dompet dari tasnya.
“Enam ribu neng…”
Setelah transaksi antara mas-mas dan neng-neng itu selesai, Chia berjalan pulang menuju rumahnya dengan perasaan senang dan teramat bahagia.
”Adit cakep banget sih, mau nggak ya dia jadi pacar gue...”
Entah sudah kali keberapanya Chia mengeluarkan kata-kata itu dari mulut mungilnya. Terdengar samar-samar lagu romantisnya Nat King Cole mengiringi terlelapnya Chia di malam yang indah itu.
When i fall in love
It will be forever
or our never fall in love
…
when I give my heart
it will be completly
…
that’s when I fall in love with you…
Di pagi yang cerah, secerah hati Chia itu terdengar ringtone hpnya berbunyi. Ternyata sms dari orang yang telah satu malam ini mengisi tidur dan mimpinya, orang ia tunggu smsnya, Adit.
Pagi…dah srpan blm?
udh nyampe skul blm?
Tanpa pikir panjang, ia langsung mereplay sms itu.”jarang-jarang ada cowok perhatian ma gue nih...”
udah d skul, km?, aq dah
srpan koq
Tak berapa lama kemudian.
aq jg dah d skul nh,
ntar qta smbng lg y. C u...
Wajah sumringah Chia yang terlihat jelas dan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya membuat Nisa teman sebangkunya merasa heran.
”Kesambet apa lo chi, pagi-pagi gini dah senyam-senyum sendiri?”
”Nggak apa-apa kok”
”Ada gosip baru nih, si Ririn sekarang dah punya cowok juga. Katanya sih kenal dari chatting juga”
”ooo...gitu ya.”
Gosip dari Nisa itu membuat Chia semakin yakin bahwa ia telah menemukan cowok yang ia cari selama ini. Ternyata cari cowok gampang banget, kenapa juga nggak dari dulu dia chatting dan ketemu Adit.
Tapi Chia ingat salah satu tips yang didengarnya dari Shopie, ”JANGAN GAMPANG PERCAYA”. Hal itu membuat satu sisi hatinya ragu, tapi satu sisi hatinya yang lain mengatakan kalau Adit itu benar. Mengingat foto Adit yang cakep and cute abis membuat Chia membuang semua keraguannya.
Ini hari ke tujuh setelah Chia chattingan sama Adit, dan semenjak itulah mereka sering smsan dan telepon-teleponan.
Nisa yang nggak tahan sama semua perubahan sikap Chia yang sering senyum-senyum nggak jelaspun akhirnya angkat suara.
“Chi, lo kenapa sih?. Gue liat lo akhir-akhir ini kayaknya bahagia…banget”
Chia masih menjawab pertanyaan Nisa dengan jawaban yang sama.
“Nggak ada apa-apa kok.”
“Lo nganggap gue sahabat bukan sih?, masa gue nggak boleh tau kalo lo lagi bahagia. Soalnya akhir-akhir ini gue liat lo tu suka… banget senyum”
Setelah agak lama, akhirnya Chia menjawab.
“Oke, gue bakal cerita ama lo, tapi gue harap lo bisa jaga rahasia gue. Deal?”
“Deal!”
“Gue tu ibarat orang habis jatuh ketimpa tangga”
“Seharusnya sedih donk, bukan malah senyum-senyum girang gitu…”
“Ye…dengerin dulu, gue itu udah jatuh cinta ketiban lophe-lophe lagi. Pokoke, super-duper love deh”
“Ama siapa?, kenal dimana?, anak kelas berapa?” tanya Nisa antusias
“Tapi bener ya lo jangan ngasih tau siapa-siapa”
“IYA…” jawab Nisa nggak sabar
“Gue kenal di chatting, namanya Adit,” jawab Chia setengah berbisik.
“Lo udah ketemuan belum?”
”Belum, masih dalam proses”
”Selamat ya, gue tunggu deh PJnya”
“Doain aja makanya.”
Akirnya Nisa tahu juga hal yang telah membuat sahabatnya itu rela mengeringkan giginya untuk tersenyum sepanjang waktu, jawabannya ya karena “CINTA”.
Alunan lagu cinta ini membunuhku miliknya d’masiv mengalun merdu dari HP Chia. Terlihat jelas di layar Hpnya, Adit calling…
“Hallo…”
“Hallo, lagi ngapain nih?”
“lagi ngerjain PR, kamu?”
”Aku lagi mikirin kamu nih”
”Nggak mungkin ah…” jawab Chia malu-malu.
“Besok ketemuan yuk”
“aku tunggu di Blok M Plaza jam empat sore,bye…”
Klick…, saluran telephon terputus sebelum chia sempat menjawab apa-apa. Tapi ada perasaaan senang yang membuat Chia nggak sabar ingin menceritakan semuanya pada sahabatnya, Nisa.
Keesokan paginya Chia berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Chia telah mengirimkan sms kepada Nisa untuk datang lebih pagi.
“
“Ya udah, langsung tancap aja”
”Enak aja lo ngomong, gue nggak siap nih. Gue takutnya dia nggak suka ma gue, secara dia
“Yang penting lo ketemuan dulu ma dia”
“Lo mau nemenin gue nggak?”
“Boleh aja”
“Oke deh, ntar gue jemput lo di rumah.”
Pelajaran Geografi yang diajarkan oleh Pak Bimo seakan tidak berkesudahan bagi Chia, ia gelisah menunggu bel pulang berbunyi.
“Teng…teng…teng…teng…”
“Akhirnya…” Chia bergumam dalam hati.
Pukul tiga sore Chia telah siap dengan baju terbaiknya, jeans pensil, kaos putih dengan cardigan pink membuatnya kelihatan cantik. Ia langsung meluncur ke rumah Nisa untuk menjemputnya. Nisa tamapak casual dengan jeans dan kaos oblong. Setelah berpamitan dengan Tante Rahma, mamanya Nisa mereka langsung menuju Blok M Plaza.
”
“Nyantai aja donk, banyak-banyak Istighfar lo”
“Iya nih…”
HP Chia berbunyi, sms dari Adit.
Km dah dmn?aq dah nyampe nh.
aq tunggu di Mc D ya...
Semakin dekat ia dengan Blok M semakin kencang jantungnya memompa darah ke seluruh tubuhnya.
”
“Apa-apaan sih lo, udah nanggung nih.”
Tangannya semakin dingin ketika mendekati Mc D. HPnya berbunyi, Adit calling...
”Dimana nih?”
“Udah deket koq”
“Kamu pake baju apa?, kalau aku pake baju putih”
”Aku pake Pink,” jawab Chia.
“Aku tunggu ya…”
Saat memasuki Mc D Chia makin demam panggung, ia serasa dimasukkan ke dalam freezer dengan suhu MINUS 5° C .Nisa yang melihat sahabatnya hanya bisa tersenyum dan mempererat genggaman tangannya.
Di bangku pojok terlihat seorang pria dengan baju putih duduk membelakangi mereka. Chia langsung datang menghampirinya, ia yakin sekali kalau itu Adit karena tidak ada lagi yang memakai baju putih selain pria itu.
Saat ia semakin dekat, pria itu berbalik arah. Alangkah terkejutnya Chia, wajahnya semakin memucat, nafasnya seperti terhenti di tenggorokan, keringat sebesar biji jagung mengalir deras di keningnya. Pria itu tak lain adalah YTH. BAPAK SUKARNO NASUTION.
Salah satu tips dari Shopie kembali terngiang, ”JANGAN GAMPANG PERCAYA”.
