CHATTING
”Tau nggak sih lo?, gue kemaren abis jalan ama Andre. Gila...cakep banget bo”
“Andre siapa pie?,” tanya Chia pada Shopie.
“Lo nggak punya TV ya?atau jangan-jangan lo nggak pernah baca tabloid gosip?,”
“Gue kemaren juga abis nonton ama Ardan,” kilah sari nggak mau kalah.
“Ardan siapa lagi sih?,” Chia semakin bingung dengan nama-nama yang nggak masuk dalam buku pelajaran mana pun itu.
“Kayaknya gue nggak perlu jelasin ke lo deh siapa mereka, nggak ada gunanya juga khan?.”
Begitulah awal pagi yang cerah pada hari Senin di SMA Maju Mundur kebanggan bangsa
“Teng…teng…teng...teng”
Percakapan nggak penting itu akhirnya terhenti oleh suara bel yang hampir mirip suara kentongan tukang jualan es tong-tong keliling kompleks di rumah Chia. Anak-anak yang rasa nasionalismenya tinggi itu pun berduyun-duyun memenuhi lapangan basket yang bila hari Senin beralih fungsi menjadi lapangan upacara.
Telah berdiri dengan tenang Bapak kepala Sekolah kebanggan SMA Maju Mundur sekaligus juga bapak yang sangat ditakuti para siswa di atas podium kehormatan ”Pembina Upacara”.
Perlu dicatat dan digarisbawahi, Bapak kepala sekolah kami yang telah berumur 30 tahun ini masih singel alias belum punya pendamping hidup. Walaupun demikian anak-anak SMA Maju Mundur nampaknya tidak berminat untuk membahas masalah status bapak yang satu ini.
“Nggak penting,” ujar Shopie suatu kali
“Nggak bobot banget sih.., kayak nggak ada duda yang lebih keren aja,” Sari ikut-ikutan menghina.
Para siswa mendengarkan dengan khidmat petuah Bapak KEPSEK tentang kebersihan, keamanan, keindahan, keselarasan, ketaqwaan, ketertiban, kerapihan, kerajinan, dan petuah-petuah lainnya yang membuat anak-anak yang tidak kuat berdiri akhirnya harus tumbang satu-persatu sebagai kusuma bangsa menuju tempat kedamaian yang tenang, ”UKS”.
Chia yang piket UKS hari itu kewalahan menghadapi banyaknya siswa yang pingsan.
”
“Iya, entar dulu nih, gue lagi ngambil air putih buat Sari, suruh Rano tuh…”
Hari senin yang sial itu, hanya ada empat orang di UKS, Chia, Nisa, Mala, dan Rano. Rano sibuk mencari-cari kesempatan dalam kesempitan, dia bolak-balik memapah cewek-cewek dari lapangan ke UKS.
“Lo nggak liat apa?gue lagi sibuk nih, banyak orderan,”
Terpaksa Chia mengambil sendiri minyak kayu putih di
Pelajaran Sejarah yang bikin ngantuk itu pun berakhir, seluruh siswa SMA Maju Mundur menyesaki kantin sekolah untuk mengisi ulang perut-perut mereka yang mulai memeperdengarkan lagu-lagu sumbang khas kelaparan, ”krocok…kerocok…”
Gang Shopie mengambil tempat khusus yang sudah mereka duduki dari tahun pertama mereka sekolah di situ, pojokan dengan tiga kursi.
“Bang… baksonya tiga ya?,” Shopie sebagai leader memesan makanan untuk dirinya dan teman-temannya.
“Es jeruknya tiga,” timpal Sari kepada Bang Rozali penjual bakso favorit SMA kami.
Sambil menunggu pesanan tiba, mereka ngerumpi lagi nih. Mulai dari cerita satpam sekolah, artis, ampe cerita tentang Pak Sukarno yang nggak kawin-kawin.
”Lo dah punya cowok belum sih Rin?,” tanya Shopie tiba-tiba.
“Belom,” jawab Ririn dibarengi dengan gelengan kepala.
”Hari gini nggak punya cowok?, kemana aja bu?”. Gaya shopie yang khas suka mengejek orang keluar lagi.
”Melek teknologi donk, cari lewat internet, chatting bo...” kali ini Sari ikut-ikutan.
Chia yang tak jauh dari mereka pun ikut nguping tips-tips yang di berikan Shopie dan Sari kepada Ririn. Sambil mengunyah batagornya, Chia mendengarkan dengan seksama suara Shopie yang cempreng.
”First, lo harus cari cowok yang pake nick yang lucu and gaul”
“Second, lo jangan gampang percaya, atau dengan kata lain lo harus selalu waspada dengan segala tipuan,” Shopie menjelaskan dengan penuh semangat.
“Lo juga harus jual mahal,” Sari nimbrung.
”Bener banget,” Shopie nimpalin
”Lo juga harus liat dulu FSnya, kalo jelek tinggalin aja.”
Itulah tips-tips yang secara tidak langsung masuk secara paksa ke memori otak Chia yang rata-rata berisi rumus matematika dan hapalan sejarah .
Sesampainya di rumah Chia masih mengingat-ingat tips yang didengarnya di kantin tadi. Sebentar lagi umurnya tujuh belas tahun, tapi sampai sekarang ia belum pernah ngerasain yang namanya pacaran.
“Kenapa sih ampe sekarang nggak ada yang nembak gue?, perasaan gue nggak jelek-jelek amat deh. Apa gue coba aja ya tips dari Shopie dan Sari tadi?” Chia bicara sendiri sambil melihat pantulan wajahnya yang manis di depan cermin.
Keesokan sorenya sepulang sekolah, Chia menuju warnet langgananya untuk memeriksa email dan mencari bahan makalah yang akan dikumpulkan minggu depan.
”Mas...kok loadingnya lama amat ya?”
“Nggak tau juga neng, biasanya cepet”
Menunggu loading yang lama, Chia langsung teringat sama tips-tipsnya Shopie. Ia langsung membuka dengan semangat Yahoo Messenger dan MIRC.
Tak berapa lama ada yang mengaddnya.
Ad1t_18:” hi….leh knalan g?”
Ia_moet: ”boleh ja”
Ad1t_18: ”ASL plizz???q Adit, 18 M JKT”
Ia_moet: ”Chia, 16 F JKT”
Seketika itu juga Chia ingat salah satu tips yang didengarnya dari Shopie dan Sari tempo hari.
Ia_moet: “blh mnta FS g?”
Ad1t_18: ”blh ja, dit_cuakep@yahoo.com”
Buru-buru Chia membuka alamat FS yang tertera di situ. Terkejutnya Chia saat melihat foto yang ada di sana, wajah Adit mengingatkannya pada salah seorang pemain film Korea, yang pasti dia cakep.
Ad1t_18: ”FS kamu donk?”
Ia_moet: ”aq g’ pnya FS, gmn donk?”, Chia berbohong.
Ad1t_18: “ya udah gpp, no HP punya khan?”
“Kasih nggak ya,” kali ini Chia bimbang. Kata Shopie dia nggak boleh gampang percaya ma orang, tapi yang namanya Adit itu cakep banget.
“Siapa tau entar dia jodoh gue, gimana donk?”
Ad1t_18: “lama amat blsnya?, g bleh ya?gpp koq..”
Dan akhirnya,
Ia_moet: “blh koq, 085288889999. kamu?”
Ad1t_18: ”085276890436”
Ad1t_18:”udahan dulu yach, aq mo off nh”
Ad1t_18:” entar aq sms km yach. Bye…”
Ia_moet: “Bye…”
Setelah mendapatkan bahan makalahnya, Chia mengclose seluruh program dan bersiap-siap meninggalkan warnet.
“Berapa mas,?” tanya Chia sambil mengeluarkan dompet dari tasnya.
“Enam ribu neng…”
Setelah transaksi antara mas-mas dan neng-neng itu selesai, Chia berjalan pulang menuju rumahnya dengan perasaan senang dan teramat bahagia.
”Adit cakep banget sih, mau nggak ya dia jadi pacar gue...”
Entah sudah kali keberapanya Chia mengeluarkan kata-kata itu dari mulut mungilnya. Terdengar samar-samar lagu romantisnya Nat King Cole mengiringi terlelapnya Chia di malam yang indah itu.
When i fall in love
It will be forever
or our never fall in love
…
when I give my heart
it will be completly
…
that’s when I fall in love with you…
Di pagi yang cerah, secerah hati Chia itu terdengar ringtone hpnya berbunyi. Ternyata sms dari orang yang telah satu malam ini mengisi tidur dan mimpinya, orang ia tunggu smsnya, Adit.
Pagi…dah srpan blm?
udh nyampe skul blm?
Tanpa pikir panjang, ia langsung mereplay sms itu.”jarang-jarang ada cowok perhatian ma gue nih...”
udah d skul, km?, aq dah
srpan koq
Tak berapa lama kemudian.
aq jg dah d skul nh,
ntar qta smbng lg y. C u...
Wajah sumringah Chia yang terlihat jelas dan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya membuat Nisa teman sebangkunya merasa heran.
”Kesambet apa lo chi, pagi-pagi gini dah senyam-senyum sendiri?”
”Nggak apa-apa kok”
”Ada gosip baru nih, si Ririn sekarang dah punya cowok juga. Katanya sih kenal dari chatting juga”
”ooo...gitu ya.”
Gosip dari Nisa itu membuat Chia semakin yakin bahwa ia telah menemukan cowok yang ia cari selama ini. Ternyata cari cowok gampang banget, kenapa juga nggak dari dulu dia chatting dan ketemu Adit.
Tapi Chia ingat salah satu tips yang didengarnya dari Shopie, ”JANGAN GAMPANG PERCAYA”. Hal itu membuat satu sisi hatinya ragu, tapi satu sisi hatinya yang lain mengatakan kalau Adit itu benar. Mengingat foto Adit yang cakep and cute abis membuat Chia membuang semua keraguannya.
Ini hari ke tujuh setelah Chia chattingan sama Adit, dan semenjak itulah mereka sering smsan dan telepon-teleponan.
Nisa yang nggak tahan sama semua perubahan sikap Chia yang sering senyum-senyum nggak jelaspun akhirnya angkat suara.
“Chi, lo kenapa sih?. Gue liat lo akhir-akhir ini kayaknya bahagia…banget”
Chia masih menjawab pertanyaan Nisa dengan jawaban yang sama.
“Nggak ada apa-apa kok.”
“Lo nganggap gue sahabat bukan sih?, masa gue nggak boleh tau kalo lo lagi bahagia. Soalnya akhir-akhir ini gue liat lo tu suka… banget senyum”
Setelah agak lama, akhirnya Chia menjawab.
“Oke, gue bakal cerita ama lo, tapi gue harap lo bisa jaga rahasia gue. Deal?”
“Deal!”
“Gue tu ibarat orang habis jatuh ketimpa tangga”
“Seharusnya sedih donk, bukan malah senyum-senyum girang gitu…”
“Ye…dengerin dulu, gue itu udah jatuh cinta ketiban lophe-lophe lagi. Pokoke, super-duper love deh”
“Ama siapa?, kenal dimana?, anak kelas berapa?” tanya Nisa antusias
“Tapi bener ya lo jangan ngasih tau siapa-siapa”
“IYA…” jawab Nisa nggak sabar
“Gue kenal di chatting, namanya Adit,” jawab Chia setengah berbisik.
“Lo udah ketemuan belum?”
”Belum, masih dalam proses”
”Selamat ya, gue tunggu deh PJnya”
“Doain aja makanya.”
Akirnya Nisa tahu juga hal yang telah membuat sahabatnya itu rela mengeringkan giginya untuk tersenyum sepanjang waktu, jawabannya ya karena “CINTA”.
Alunan lagu cinta ini membunuhku miliknya d’masiv mengalun merdu dari HP Chia. Terlihat jelas di layar Hpnya, Adit calling…
“Hallo…”
“Hallo, lagi ngapain nih?”
“lagi ngerjain PR, kamu?”
”Aku lagi mikirin kamu nih”
”Nggak mungkin ah…” jawab Chia malu-malu.
“Besok ketemuan yuk”
“aku tunggu di Blok M Plaza jam empat sore,bye…”
Klick…, saluran telephon terputus sebelum chia sempat menjawab apa-apa. Tapi ada perasaaan senang yang membuat Chia nggak sabar ingin menceritakan semuanya pada sahabatnya, Nisa.
Keesokan paginya Chia berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Chia telah mengirimkan sms kepada Nisa untuk datang lebih pagi.
“
“Ya udah, langsung tancap aja”
”Enak aja lo ngomong, gue nggak siap nih. Gue takutnya dia nggak suka ma gue, secara dia
“Yang penting lo ketemuan dulu ma dia”
“Lo mau nemenin gue nggak?”
“Boleh aja”
“Oke deh, ntar gue jemput lo di rumah.”
Pelajaran Geografi yang diajarkan oleh Pak Bimo seakan tidak berkesudahan bagi Chia, ia gelisah menunggu bel pulang berbunyi.
“Teng…teng…teng…teng…”
“Akhirnya…” Chia bergumam dalam hati.
Pukul tiga sore Chia telah siap dengan baju terbaiknya, jeans pensil, kaos putih dengan cardigan pink membuatnya kelihatan cantik. Ia langsung meluncur ke rumah Nisa untuk menjemputnya. Nisa tamapak casual dengan jeans dan kaos oblong. Setelah berpamitan dengan Tante Rahma, mamanya Nisa mereka langsung menuju Blok M Plaza.
”
“Nyantai aja donk, banyak-banyak Istighfar lo”
“Iya nih…”
HP Chia berbunyi, sms dari Adit.
Km dah dmn?aq dah nyampe nh.
aq tunggu di Mc D ya...
Semakin dekat ia dengan Blok M semakin kencang jantungnya memompa darah ke seluruh tubuhnya.
”
“Apa-apaan sih lo, udah nanggung nih.”
Tangannya semakin dingin ketika mendekati Mc D. HPnya berbunyi, Adit calling...
”Dimana nih?”
“Udah deket koq”
“Kamu pake baju apa?, kalau aku pake baju putih”
”Aku pake Pink,” jawab Chia.
“Aku tunggu ya…”
Saat memasuki Mc D Chia makin demam panggung, ia serasa dimasukkan ke dalam freezer dengan suhu MINUS 5° C .Nisa yang melihat sahabatnya hanya bisa tersenyum dan mempererat genggaman tangannya.
Di bangku pojok terlihat seorang pria dengan baju putih duduk membelakangi mereka. Chia langsung datang menghampirinya, ia yakin sekali kalau itu Adit karena tidak ada lagi yang memakai baju putih selain pria itu.
Saat ia semakin dekat, pria itu berbalik arah. Alangkah terkejutnya Chia, wajahnya semakin memucat, nafasnya seperti terhenti di tenggorokan, keringat sebesar biji jagung mengalir deras di keningnya. Pria itu tak lain adalah YTH. BAPAK SUKARNO NASUTION.
Salah satu tips dari Shopie kembali terngiang, ”JANGAN GAMPANG PERCAYA”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar